PENERAPAN SISTEM KERJA RODI DI PESANTREN ALZAYTUN

Kerja rodi/ romusha atau tanam paksa, istilah kata ini mengingatkan kita pada jaman penjajahan Belanda/ Jepang dimana bangsa kita dipaksa bekerja keras dan disiksa, berkorban apa saja, namun hasil keringat dan jerih payahnya tak pernah didapatkannya tapi untuk tuan – tuan besar penjajah disana, keadaan itu wajar karena memang posisinya bangsa Indonesia sedang dijajah, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih.

Namun adalah suatu keganjilan dan keanehan besar jika kejadian Kerja rodi/ romusha atau tanam paksa terjadi disaat sekarang juga namun dengan cara yang lebih modern dan halus, contohnya, Ketika mas’ul – mas’ul/ aparat – aparat lurahnya yang diteritorial sudah tak sanggup lagi untuk memenuhi setoran – setoran kewajibannya, karena saking beban berat yang harus ditanggung tiap bulannya dan harus tekor berbulan – bulan, terlebih bahwa mereka memang dikondisikan sedemikian rupa agar mafi/ tidak kerja, agar nanti dengan sendirinya ia memilih untuk menjadi muadhof/ pekerja kasar bangunan ( ini adalah bahasa halus AS Panji Gumilang, tapi yang benar adalah kuli kasar bangunan ) di Ma’had Al Zaytun, daripada repot – repot lagi memikirkan setoran – setoran gila itu.

Ketika sudah memilih untuk menjadi Muadhof/ pekerja kasar, maka pemerasan terhadap tenaga/ fisik menunggu saatnya saja, tapi itulah tadi yang kami katakan diatas, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih atau dengan pakai peribahasa lain adalah: keluar dari mulut singa masuk kemulut buaya.

 

Tak habis sampai disitu ketika di teritorial sudah diperas habis – habisan dan berjuang mati – matian, ditempat Ma’had Al Zaytun telah menunggu pekerjaan berat yang tak kalah bengisnya dengan kerja rodi/ romusha atau tanam paksa, namun ini tidak dirasakan sebagai imperialisme fisik karena mungkin akibat indoktrinisasi aqidah yang sudah tertanamkan demikian mendarahdaging, sehingga sulit untuk menyadarkannya. Bayangkan saja kerja mulai pukul 05.30 sampai pukul 22.00 – 24.00, dengan pengawasan begitu sangat ketat ala militer/ intelijen, pengecekan keberadaan terhadap masing – masing diri muadhof dilakukan tiga ( 3 ) kali dalam sehari, 1). Pukul 05.30 saat mulai kerja 2). Pukul 13.00 saat setelah istirahat 3). Pukul 22.00 saat doa malam. Didalam laporan tersebut disampaikan kelompok kerja A, B, C dan seterusnya apakah masih tetap utuh anggotanya, ataukah ada yang kurang, kalau kurang kenapa ? apakah karena sakit ataukah lari/ ngabur, dan kalaupun ada siapakah itu orangnya, apakah dia sudah punya korinah/ istri, jika yang tidak hadir/ absent memang benar adalah yang sudah punya korinah/ istri, maka bisa dilacak ke rumah tempat kontrakanya dan dengan segera pula Komandan Karyawan Bangunan dari Al Zaytun, membentuk tim buru sergap dan tim pencari fakta ala polisi ( red: sebab – sebab apa dia tidak berada di lokasi Al Zaytun ).

Apa alasanya kenapa sampai dicek sampai begitu ketat sekali, sampai tiga kali dalam sehari, lain dan tak bukan adalah bahwa ketakutan sekali bila pihak AS Panji Gumilang, muadhof tersebut mencoba lari/ ngabur dari tempat Al Zaytun, sehingga akan kehilangan pekerja rodinya yang cukup dibayar Rp. 50.000,- tiap bulan ( yang berarti akan berdampak besar terhadap cepat dan lambatnya, berhasil dan tidaknya proyek ambisius dan misteriusnya itu ), padahal upah standart tukang kuli bangunan disekitar desa -desa/ daerah Al Zaytun berada adalah Rp. 30.000,- sehari belum termasuk uang makan, itupun jam kerjanya tidak pasti dimulai jam berapa ( karena tidak ada sistem yang mengaturnya demikian disiplin, terikat dan ketat, karena sifatnya adalah pekerja/ kuli lepas ), anggaplah pukul 08.30 sampai pukul 16.00, dengan data perbandingan tersebut kita bisa menghitung sendiri selisih antara waktu jam normal kerja dan diluar jam normal, lalu dikalikan jumlah muadhof kurang lebih 4.000 personel, antara input dan ouput begitu besar perbedaannya, antara pekerja kuli bangunan Al Zaytun dengan pekerja kuli bangunan lepas di desa Mekar Jaya, Gantar, Haur Kolot, Cipancu, Suka Slamet, Sandrem, Bantar Waru, Tumaritis, Kertanegara, Haurgeulis dll.

Ada pula muadhof bagian lain yang bukan di bangunan, yaitu dibagian Pertanian yang harus menanam ratusan ribu pohon jati dan memelihara pohon jati ditengah teriknya panas matahari yang menyengat tanpa harus kenal lelah setiap hari, demikian juga dengan bagian Peternakan, tak jauh beda dengan rekan rekan senasib – sepenanggungan muadhof.

Posisi muadhof yang di Al Zaytun tak ubahnya seperti kerbau yang telah dicucuk hidungnya [ karena begitu sempurna kemiskinan yang sedemikian rupa telah direkayasa AS Panji Gumilang, tak ada waktu untuk berusaha, tak ada kesempatan cari informasi dll bagai dalam sebuah penjara ] tak bisa berbuat apa – apa, kecuali terus bekerja rodi dan bekerja rodi meskipun hasilnya siapakah yang akan menikmatinya ( red: yang jelas akan memanen hasilnya AS Panji Gumilang cs nya ). Apakah mungkin para muadhof ini telah mengalami fatalisme aqidah sehingga mereka sendiri tak menyadari bahwa hal demikan adalah kerja rodi/ romusha / tanam paksa sesungguhnya, akibat akidah – akidah/ doktrin – doktrin yang telah disesatkan/ disalahartikan dari territorial hingga di Al Zaytun, sehingga apa yang dilakukan dianggapnya adalah ibadah atau amal sholeh bukan perbudakan/ penjajahan yang telah kami sebutkan diatas, coba kita simak doa rutin yang wajib dibaca tiap mau memulai dan sesudah kerja , sbb:

“ Ya Rabbku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan padaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat berbuat amal sholeh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada keturunanku, sesungguhnya aku bertaubat pada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang berserah diri,”

( QS. Al Ahqaff ayat 15 )

Itulah bunyi doa para muadhof, yang setiap pagi 05.30 dimulai dan setiap malam pukul 22.00 – 24.00 dilafazkan, agaknya doa ini telah diselewengkan demikian parah oleh pihak AS Panji Gumilang, sehingga bisa menyulap/ menyihir orang – orang/ para muadhof itu tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijajah, diperbudak, diromusha, kerja rodi, kerja paksa selama hampir lima ( 5 ) tahun lebih semenjak pertama kali Al Zaytun dibangun, itu belum termasuk ketika mereka masih di teritorial sebelumnya malah dianggapnya sebagai amal sholeh, yang mesti dibanggakan, dijaga prestasinya dan berlomba – lomba untuk meraihnya, sungguh biadab!. Kalau kita teruskan dan lanjutkan lafaz doa dan dikaitkan dengan fakta dilapangan, justru ternyata ujung – ujungnya adalah penghinaan kepada Allah Swt, karena setelah konteks amal sholeh adalah diberikan kebaikan keturunan pada muadhof, tetapi nyatanya anak – anak muadhof rata – rata pada terkena penyakit TBC, pholio dan gizi buruk dikarenakan kekurangan gizi demikian lama dan bertahun – tahun, ini bisa dicek di puskemas – puskemas, rumah sakit disekitar Indramayu dan Subang, yang sering menerima pasien istri – istri muadhof. Fakta – fakta ini makanya pernah disindir pedas oleh petugas kesehatan dan dokter puskemas dan Rumah Sakit disana, dengan mengatakan ,” Katanya di Al Zaytun makanannya bergizi, tapi nyatanya kok banyak anak – anak ( bahkan istri – istri muadhof ) Karyawan pembanguan Al Zaytun yang pada kena penyakit TBC, folio dll. Setelah kejadian tersebut pihak Al Zaytun segera membangun sarana kesehatan untuk mencegah informasi buruk – buruk ini keluar. Apakah ini bukannya 360 derajat berbalik dari apa yang menjadi slogan – sloganya ketika memberikan pengarahan kepada tamu – tamu calon wali santri “ Di Al Zaytun ini santri – santri terjamin akan gizinya “ namun ketika itu tiba – tiba ada suara yang nyeletuk dari santri yang berteriak ‘ ‘ omong kosong, bohong itu tentang gizi yang terjamin, lalu si santri tersebut dikejar – kejar oleh mudarris yang bernama Saefudin Ibrahim.

Kalau kita baca dari doa diatas disebutkan diberi keturunan yang baik, namun akibat kesewenang – wenangan dengan menggaji Rp 50.000,- bersih per bulan setelah dipotong sana – sini dan tidak ada waktu senggang lainya yang membuat sulit untuk mencari tambahan pencaharian, maka sama saja Al Zaytun telah memberikan kontribusi terbesar terhadap lahirnya generasi ” lost generation” yaitu generasi yang lemah pada karyawannya sendiri yang telah jungkir balik dan membelanya. Tapi anehnya di mata AS Panj Gumilang hal demikian dikatakan sebagai hal biasa, bahkan lebih gila lagi dengan bangga mengatakan,” bahwa perjuangan membutuhkan pengorbanan dan kalau perlu kita harus menjadi raja tega, karena kalau tidak menjadi raja tega dan megedepankan perasaan, Al Zaytun ini takkan bisa terbangun , inikan proyek masa depan peradaban islam, proyek monumental agar dikenang generasi berikutnya sampai 100 tahun kemudian“ jadi dalam hal ini harus ada yang dijadikan tumbal dan dikorbankan ( dikutip dari dzikir Jumat AS Panji Gumilang, yang pernah dia ucapkan di Masjid Al Hayat ).

Comments (4)
  • Eko mantan karyawan alzaytun  - mantan karyawan alzaytun
    avatar
    Tadi pagi jam 07:00 datang kerumahku seorang karyawan Zaytun. Dia mampir kerumahku karena ingin belanja tapi tokonya belum buka, dan sambil menunggu, teman tadi mampir ke rumahku.

    Seperti biasa, selain saling membicarakan kondisi keluarga dan bisnis kami, tentu tidak ketinggalan kami membicarakan Zaytun hari ini.

    Hampir seperti kebanyakkan teman yang masih aktif di Zaytun, teman tadi juga mengatakan tentang aset umat yang ingin dipertahankan. Teman-teman yang masih aktif mengatakan tidak ingin aset umat jatuh di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

    Dalam keyakinan teman-teman tadi bahwa kehancuran Zaytun di sebabkan oleh Oknum saja. Sedang tujuan tetap pada rel semula.

    Aku sendiri tidak tahu apa itu betul atau tidak. Yang jelas kata seorang temanku yang kebetulan dia seorang pengacara di daerah Subang mengatakan bahwa hutang Zaytun saat ini lebih dari Rp 100 Trilyun.

    Jadi aset yang mana lagi bila semua sudah menjadi jaminan Bank?

    Mau nilep dana century sekarang sudah susah karena robert tantular bermasalah...padahal syaihk alzaytun adalah komisaris di bank century
  • Eko  - Alumni Mahasiswa P3T: NII Sekarang Musyrik
    avatar
    Beberapa waktu yang lalu aku sedang menunggu istri yang belanja di Griya Mart, tiba-tiba ada orang yang menghampiri aku. Ternyata dia adalah alumni mahasiswa P3T yang sudah keluar dari Zaytun, padahal istrinya masih mengajar di Zaytun.

    P3T adalah Program Pendidikan Pertanian Terpadu untuk program D3, yang konon diharapkan menjadi cikal bakal Universitas Pertanian. Dan P3T ditangani oleh dosen-dosen dari ITB.

    Semua mahasiswa P3T didatangkan dari teritorial NII, dan satu orang dari karyawan Zaytun, itupun karyawan yang bertugas sebagai pelayan petinggi-petinggi Zaytun.

    Setelah selesai kuliah, alumni P3T dipekerjakan di Zaytun. Dan rupanya dari mereka banyak yang keluar. Salah satunya adalah yang bertemu aku di depan Griya Mart.

    Seperti biasa, kamipun saling menanyakan kabar, dan saat aku tanyakan bisnisnya, dia mengatakan ingin berkunjung kerumahku, ada yang akan dipresentasikan.

    Hanya selang satu hari, dia datang kerumahku. Dia mulai membuka pembicaraan dengan membicarakan NII hari ini. Menurut dia, NII sudah berpecah belah, padahal menurut dia lagi dalam Al Qur’an dinyatakan yang berpecah belah itu termasuk musyrik. Jadi NII hari ini sudah batal, karena musyrik.

    Alumni tadi juga menyatakan bahwa konsep hijrah dan jihad yang digunakan oleh NII telah gagal total, diapun menawarkan konsep yang lain.

    Begitu arah pembicaraan alumni tadi seperti ingin merekrutku, akupun mulai menghindar dengan alasan masih trauma ikut aliran-aliran semacam NII. Akhirnya alumni tadi berpamitan.

    Dalam benakku ada tanda tanya, aliran apa lagi yang dibawa alumni tadi. Tapi anehnya keesokkan harinya ada yang menelponku dari Gunung Kidul, rupanya dia juga alumni P3T yang mengajak aku kembali ke NII versi lain / bukan KW9. Dan dia meminta aku berhati-hati dengan beberapa temannya yang masih berkeliaran membawa ajaran al Qiyadah atau Millah Ibrahim, dan alumni yang datang kerumahku termasuk aliran tersebut.

    Aku jadi heran sendiri…
  • Eko  - Tips Untuk Tetap Eksis Di NII
    avatar
    Tips ini merupakan kesimpulan atau pendapat pribadi, aku sendiri tidak tahu. Karena tips ini aku dengar dari pejabat kecamatan NII bagian keuangan.

    Tipsnya singkat saja, “Selalu Ikhlas dan jangan pernah berbuat dzalim!”

    1. Selalu Ikhlas

    Ikhlaslah menerima bai’at. Tentunya harus taat pada Allah, Rasulullah dan ulil amri minkum. Apapun yang diperintahkan oleh pimpinanmu kerjakan dengan ikhlas, jangan menggerutu.

    Berkorbanlah dengan harta dan dirimu, kalau perlu habis-habisan, karena semua yang ada padamu telah dijual dan akan dibeli dengan surga. Adapun bila terjadi kesalahan, terimalah hukuman dari ulil amrimu dengan ikhlas. Semoga Allah membenarkan bai’atmu dan berkenan pula kiranya Ia melimpahkan tolong dan kurnia-Nya padamu.

    2. Jangan Pernah Berbuat Dzalim.

    Apapun bentuk kedzaliman, tinggalkan!! Jangan korupsi, mencuri, menipu orang dan lain sebagainya. Kalau salah satu dilakukan, baik itu tidak ikhlas maupun sering berbuat dzalim, maka kamu pasti akan gagal berMadinah dan akan KASLAN.

    Itu tips untuk bertahan di NII, karena aku tidak ikhlas melihat penghambur-hamburan uang umat di Zaytun, dan aku tidak ikhlas mendengar janji-janji yang sering tidak ditepati, akhirnya aku kaslan.

    Bagi para pembaca catatanku ini, dan Anda masih aktif di NII jangan sekali-kali melakukan kedzaliman dan tidak ikhlas.13.gif
  • clarishella
    avatar
    terimakasih :D
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
NII CRISIS CENTER(ncc) .